BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad
Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.
[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH
Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [An-Nisa : 58]
Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan.
Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.
Dan firman-Nya.
“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]
Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.
Dan firman-Nya.
“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab : 72]
Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji” [Al-Mukminun : 8]
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.
“Tanda munafik ada tiga : apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.
Dalam riwayat lain.
“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.
[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH
Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.
Hadits Pertama.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]
Hadits Kedua
Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 3535 dan At-Tirmidzi 1264, ia berkata, “ini adalah hadits hasan gharib”. Lihatlah, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 424]
Hadits Ketiga
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah shalat” [Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28. Lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 1739]
Hadits Keempat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]
[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS MENDAPAT BALASAN DUNIA DAN AKHIRAT
Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar” [An-Nisa : 114]
Imam Bukhari (55) dan Imam Muslim (1002) telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah”.
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu.
“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]
Nash-nash ini menunjukkan bahwasanya seorang Muslim apabila ia menunaikan kewajibannya terhadap sesama hamba lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN
Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ; karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.
Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal nasihatnya itu.
“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin) dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya. Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.
Di antara nasihatnya, “Maka hiudpkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan istanamu” [1]
Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna dan mengurangi hak-hak orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah oran-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” [Al-Muthaffifin : 1-6]
[Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul Falah, Jakarta 2006]
20110517
20100215
20100128
Takdir dan Nasib
Bagi orang kebanyakan, sangatlah sulit memahami bahwa perkara hidup dan mati berada sepenuhnya didalam genggaman Allah SWT. Dalam hal ini, ada ketentuan waktu yang tidak dapat diubah oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Allah SWT telah memberikan petunjuk bagi kita perihal nasib dan takdir didalam Surat Al-Baqarah Ayat 246, 247, dengan menggambarkan para pemuka Bani Israel yang hidup setelah berlalunya masa Nabi Musa AS.
Tiadakah kamu perhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah (berlalu masa) Musa, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka di masa itu:”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah (dibawah kepemimpinannya).” Nabi mereka menjawab: ”Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: ”Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang dzalim. Nabi mereka berkata: ”Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana mungkin ia menjadi raja kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan (mengatur pemerintahan) daripadanya. Sedangkan iapun tidak dianugerahi banyak harta kekayaan?” Berkata Nabi Mereka (Samuel AS): ”Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Sebelum kita lanjutkan pembahasan, marilah kita garis-bawahi bahwa orang-orang kaya menganggap diri mereka berhak mengatur orang-orang miskin. Mereka Lupa bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Mengatur, Dia (Allah) bebas memberi kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah SWT telah menganugerahi Thalut (orang Israel menyebutnya Saul) ilmu pengetahuan dan keperkasaan jasmani untuk dapat memikul tanggung-jawab kepemimpinan dipundaknya. Artinya, ilmu pengetahuan lebih berdaya-guna daripada kekayaan harta. Lebih jauh lagi kita bisa memetik hikmah bahwa memenuhi syarat secara jasmaniah sekaligus ruhaniah sangat diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Kekayaan bukanlah ‘blanko Surat Mandat’ yang dapat digunakan semaunya sebagai dasar untuk mengatur orang lain.
Dengan nada putus asa, Bani Israil meminta kepada Nabi mereka agar diberikan tanda bahwa Thalut adalah pemimpin terpilih. Tanda ini terdapat dalam firman Allah SWT, Surat Al-Baqarah Ayat 248:
Nabi mereka bersabda, “Tandanya ia sebagai raja ialah kembalinya tabut (peti kayu) yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu, serta sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun; Para malaikat yang akan membawa tabut itu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.
Selanjutnya, sebagian dari kelompok Bani Israil itu bersiap siaga untuk berperang di Jalan Allah SWT (Fisabilillah), sebagian lagi bersikap tenang, tulus menerima, dan sisanya sekedar ikut-ikutan bergabung. Allah SWT memiliki cara sendiri untuk memilah-milah mereka melalui ujian-Nya. Hal ini diuraikan pada ayat selanjutnya, dimana Allah SWT berfirman (Al-Baqarah Ayat 249-250):
Dan ketika Thalut keluar membawa pasukannya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan cobaan sebuah sungai. Maka siapapun yang meminum airnya bukanlah ia termasuk golonganku, dan siapapun yang tidak mencicipinya, kecuali hanya seceduk telapak tangannya, maka merekalah pengikutku. Tetapi merekapun meminum air sungai itu kecuali sebagian kecil dari mereka. Setelah ia (Thalut) dan orang-orang beriman yang bersamanya sampai ke seberang sungai, mereka (yang meminum air sungai) berkata, “Kita tidak lagi mempunyai tenaga untuk melawan Jalut (Goliath) dan tentaranya hari ini.” Tetapi, mereka yang berkeyakinan akan menemui Tuhan mereka berseru, “Betapa telah sering terjadi bahwa satu kelompok yang kecil bisa mengalahkan musuh yang besar atas izin Allah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan ketika mereka berhadapan dengan Jalut dan pasukannya di medan pertempuran, mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, curahkanlah kesabaran pada diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.
Kini kita mengerti bahwa, disini Allah SWT memilah orang-orang yang teguh keimanannya dari mereka yang Muslim sekedarnya saja dengan cobaan berupa sebuah sungai. Beberapa orang yang benar-benar beriman tidak hanya mengingatkan kaumnya perihal Kekuatan Allah SWT, tetapi mereka juga merendahkan diri mereka dihadapan Allah SWT dengan selalu berdo’a. Jadi, memamerkan ketaqwaan dan keteguhan iman seseorang bukanlah hal yang diperbolehkan. Sebagai hasil atas ketaatan, keteguhan, dan kesabaran mereka itu diterangkan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 251, dimana Allah SWT berfirman:
Dan mereka (tentara Thalut) mengalahkan pasukan Jalut atas izin Allah. Daud (salah satu dari mukmin, dan waktu itu belum menjadi Nabi) menewaskan Jalut. Allah menganugerahkan kerajaan dan hikmah kebijaksanaan kepada Daud, dan mengajarinya apa-apa yang Dia kehendaki. Sekiranya Allah tidak menundukkan keganasan segolongan orang dengan golongan yang lain, niscaya telah rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta".
Penting digaris-bawahi disini Allah menggunakan kata ‘sedikit’ sampai tiga kali didalam firman-Nya diatas. Pertama, sangat sedikit dari mereka yang bersedia berperang ketika kewajiban itu diturunkan atas mereka. Kemudian, sangat sedikit diantara mereka yang tidak minum air sungai. Dari sedikit yang tersisa itu, beberapa diantaranya tidak bersedia bertempur melawan Jalut ‘sang adi-daya’. Pada akhirnya, tinggal sejumlah kecil saja, yang memiliki keyakinan seutuhnya atas nasib dan takdir, berani menghadapi situasi (pertempuran) yang nyata. Allah SWT memberi ganjaran kepada mereka, selain berupa kemenangan, juga kerajaan/kekuasaan, dan mengajarkan kepada mereka berbagai bentuk hikmah. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 269,
Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa memperoleh anugerah hikmah sungguh ia telah mendapatkan karunia yang amat banyak. Namun, tiadalah yang mengingat yang demikian ini selain Ulul-Albab (orang-orang yang berpengetahuan).
Marilah kita tengok Khalid bin Walid RA, seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang telah ikut bertempur dalam banyak peperangan. Sulit untuk mendapati bagian tubuhnya yang tidak terdapat bekas-bekas luka. Khalid RA mendambakan dirinya gugur sebagai syuhada’, namun pada akhirnya ia wafat di tempat tidurnya sendiri di rumahnya. Nah, kini anda mengerti bahwa hidup dan mati mutlak berada dalam genggaman Allah SWT semata.
Karenanya, maka sangatlah penting bagi kita untuk memiliki keyakinan (iman) yang utuh dalam hal nasib dan takdir, dan atas perkenan Allah SWT sajalah kita meraih keberhasilan.
Semoga Allah SWT meneguhkan Iman kita terhadap Nasib dan Takdir. Amiin.
Tiadakah kamu perhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah (berlalu masa) Musa, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka di masa itu:”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah (dibawah kepemimpinannya).” Nabi mereka menjawab: ”Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: ”Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang dzalim. Nabi mereka berkata: ”Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana mungkin ia menjadi raja kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan (mengatur pemerintahan) daripadanya. Sedangkan iapun tidak dianugerahi banyak harta kekayaan?” Berkata Nabi Mereka (Samuel AS): ”Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Sebelum kita lanjutkan pembahasan, marilah kita garis-bawahi bahwa orang-orang kaya menganggap diri mereka berhak mengatur orang-orang miskin. Mereka Lupa bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Mengatur, Dia (Allah) bebas memberi kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah SWT telah menganugerahi Thalut (orang Israel menyebutnya Saul) ilmu pengetahuan dan keperkasaan jasmani untuk dapat memikul tanggung-jawab kepemimpinan dipundaknya. Artinya, ilmu pengetahuan lebih berdaya-guna daripada kekayaan harta. Lebih jauh lagi kita bisa memetik hikmah bahwa memenuhi syarat secara jasmaniah sekaligus ruhaniah sangat diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Kekayaan bukanlah ‘blanko Surat Mandat’ yang dapat digunakan semaunya sebagai dasar untuk mengatur orang lain.
Dengan nada putus asa, Bani Israil meminta kepada Nabi mereka agar diberikan tanda bahwa Thalut adalah pemimpin terpilih. Tanda ini terdapat dalam firman Allah SWT, Surat Al-Baqarah Ayat 248:
Nabi mereka bersabda, “Tandanya ia sebagai raja ialah kembalinya tabut (peti kayu) yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu, serta sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun; Para malaikat yang akan membawa tabut itu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.
Selanjutnya, sebagian dari kelompok Bani Israil itu bersiap siaga untuk berperang di Jalan Allah SWT (Fisabilillah), sebagian lagi bersikap tenang, tulus menerima, dan sisanya sekedar ikut-ikutan bergabung. Allah SWT memiliki cara sendiri untuk memilah-milah mereka melalui ujian-Nya. Hal ini diuraikan pada ayat selanjutnya, dimana Allah SWT berfirman (Al-Baqarah Ayat 249-250):
Dan ketika Thalut keluar membawa pasukannya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan cobaan sebuah sungai. Maka siapapun yang meminum airnya bukanlah ia termasuk golonganku, dan siapapun yang tidak mencicipinya, kecuali hanya seceduk telapak tangannya, maka merekalah pengikutku. Tetapi merekapun meminum air sungai itu kecuali sebagian kecil dari mereka. Setelah ia (Thalut) dan orang-orang beriman yang bersamanya sampai ke seberang sungai, mereka (yang meminum air sungai) berkata, “Kita tidak lagi mempunyai tenaga untuk melawan Jalut (Goliath) dan tentaranya hari ini.” Tetapi, mereka yang berkeyakinan akan menemui Tuhan mereka berseru, “Betapa telah sering terjadi bahwa satu kelompok yang kecil bisa mengalahkan musuh yang besar atas izin Allah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan ketika mereka berhadapan dengan Jalut dan pasukannya di medan pertempuran, mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, curahkanlah kesabaran pada diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.
Kini kita mengerti bahwa, disini Allah SWT memilah orang-orang yang teguh keimanannya dari mereka yang Muslim sekedarnya saja dengan cobaan berupa sebuah sungai. Beberapa orang yang benar-benar beriman tidak hanya mengingatkan kaumnya perihal Kekuatan Allah SWT, tetapi mereka juga merendahkan diri mereka dihadapan Allah SWT dengan selalu berdo’a. Jadi, memamerkan ketaqwaan dan keteguhan iman seseorang bukanlah hal yang diperbolehkan. Sebagai hasil atas ketaatan, keteguhan, dan kesabaran mereka itu diterangkan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 251, dimana Allah SWT berfirman:
Dan mereka (tentara Thalut) mengalahkan pasukan Jalut atas izin Allah. Daud (salah satu dari mukmin, dan waktu itu belum menjadi Nabi) menewaskan Jalut. Allah menganugerahkan kerajaan dan hikmah kebijaksanaan kepada Daud, dan mengajarinya apa-apa yang Dia kehendaki. Sekiranya Allah tidak menundukkan keganasan segolongan orang dengan golongan yang lain, niscaya telah rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta".
Penting digaris-bawahi disini Allah menggunakan kata ‘sedikit’ sampai tiga kali didalam firman-Nya diatas. Pertama, sangat sedikit dari mereka yang bersedia berperang ketika kewajiban itu diturunkan atas mereka. Kemudian, sangat sedikit diantara mereka yang tidak minum air sungai. Dari sedikit yang tersisa itu, beberapa diantaranya tidak bersedia bertempur melawan Jalut ‘sang adi-daya’. Pada akhirnya, tinggal sejumlah kecil saja, yang memiliki keyakinan seutuhnya atas nasib dan takdir, berani menghadapi situasi (pertempuran) yang nyata. Allah SWT memberi ganjaran kepada mereka, selain berupa kemenangan, juga kerajaan/kekuasaan, dan mengajarkan kepada mereka berbagai bentuk hikmah. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 269,
Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa memperoleh anugerah hikmah sungguh ia telah mendapatkan karunia yang amat banyak. Namun, tiadalah yang mengingat yang demikian ini selain Ulul-Albab (orang-orang yang berpengetahuan).
Marilah kita tengok Khalid bin Walid RA, seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang telah ikut bertempur dalam banyak peperangan. Sulit untuk mendapati bagian tubuhnya yang tidak terdapat bekas-bekas luka. Khalid RA mendambakan dirinya gugur sebagai syuhada’, namun pada akhirnya ia wafat di tempat tidurnya sendiri di rumahnya. Nah, kini anda mengerti bahwa hidup dan mati mutlak berada dalam genggaman Allah SWT semata.
Karenanya, maka sangatlah penting bagi kita untuk memiliki keyakinan (iman) yang utuh dalam hal nasib dan takdir, dan atas perkenan Allah SWT sajalah kita meraih keberhasilan.
Semoga Allah SWT meneguhkan Iman kita terhadap Nasib dan Takdir. Amiin.
Langganan:
Postingan (Atom)

